RAPP
Showing posts with label RAPP. Show all posts
Pak Suparjo, Petani Kelapa Sawit Indonesia
Wednesday, August 29, 2018
Mata saya tertuju pada satu sosok pria berseragam hijau muda siang itu. Perawakannya yang ramah membuat saya penasaran akan sosok beliau. “Sampahnya ditaroh di sini aja mbak. Nanti kita yang bersihkan”, tegurnya kala itu saat saya hendak membersihkan kotak snack yang isinya sudah ludes karena perut sudah keroncongan.
Tak berapa lama pria
itu menghampiri rombongan kami lengkap dengan pulpen dan buku kecilnya, seakan
siap mencatat berita dari narasumber.
“Teman
– teman, perkenalkan ini Pak Suparjo. Beliau dari tadi penasaran, teman – teman
ini siapa. Katanya Blogger itu apa,” ucap salah satu
teman seangkatan pria tersebut.
“Habisnya
Bapak Suparjo ini dari tadi nanya ke saya, kok mereka pada nenteng–nenteng
kamera semua. Kan bukan wartawan yah,” ujarnya lagi.
“Blogger
itu orang yang punya blog maupun website dan menuliskan ceritanya di dalam blog
mereka, Pak. Nanti nih ya, Bapak bisa baca cerita yang kami tuliskan di blog
mengenai kunjungan kami kesini,” ujar salah satu perwakilan
dari rombongan kami.
“Siapa
saja bisa jadi blogger lho, Pak. Bapak juga bisa,”
kataku yang kemudian dibalas dengan senyuman malu – malu dari beliau.
Saya baru tahu kalau
sosok yang sedari tadi saya perhatikan, bernama Suparjo. Beliau adalah salah
satu petani
kelapa sawit yang tergabung dalam Asosiasi
Petani Sawit Swadaya Amanah. Dari perawakannya terlihat sekali kalau
Bapak ini tipe pembelajar hebat. Terlihat dari pulpen dan buku kecilnya, saat mencatat
beberapa hal yang kami bicarakan seputar definisi blogger.
Peribahasa yang
berbunyi “Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar” seakan menggambarkan contoh
nyatanya. Pak Suparjo misalnya. Semangatnya untuk maju dan melek akan hal – hal
baru patut diacungi jempol.
Pak Suparjo adalah
satu dari banyaknya petani kelapa sawit yang bermitra dengan Asian Agri. Asian
Agri membangun kemitraan
dengan petani sawit swadaya dalam mengelola
perkebunan sawit secara berkelanjutan
serta tak lupa meningkatkan
kesejahteraan petani.
Banyak sekali manfaat
yang dirasakan oleh petani kelapa sawit swadaya semenjak bergabung bersama
Asian Agri, kemudahan dalam antrian tandan buah segar (TBS), jaminan penerimaan
buah, kemudian petani juga dipermudah untuk mendapatkan pupuk, dan tak kalah
penting, Asian Agri siap membina
petani swadaya sehingga harkat, martabat dan perekonomiannya terangkat.
Sebelum mengobrol
dengan Pak Suparjo dan rekannya yang tergabung dalam Asosiasi Petani Sawit
Amanah, saya dan rombongan pagi itu sudah lebih dulu disambut oleh Pak Gurusinga
dan beberapa bapak petani Plasma yang sudah bekerjasama dengan Asian Agri.
Memang tak gampang
untuk memutuskan replanting
kebun sawit. Replanting sendiri artinya mengganti pohon sawit yang usianya
sudah 25 tahun atau lebih. Kenapa harus di replanting ? Tentunya replanting
dilakukan agar nantinya sawit lebih produktif lagi. Karena sawit yang sudah
terlalu tua tidak optimal lagi hasil produksinya.
Saat replanting
dilakukan, tentulah petani ini memiliki aktifitas lainnya. Ada yang memilih
berkebun, beternak, maupun berdagang. Hasilnya yah alhamdulillah bisa memenuhi
kebutuhan hidup sehari – hari tentunya ucap Pak Tulus, salah satu petani plasma
yang hadir pada pertemuan pagi itu.
Cuaca pagi itu
lumayan bersahabat. Sedikit hangat tapi ndag bikin baju basah karena keringat.
Seakan mentari memberi kelonggaran bagi kami untuk dapat leluasa menengok kebun
sawit milik petani.
Dalam perjalanan
keliling kebun sawit kemarin juga kami melihat kebun yang berisi bibit sawit.
Hamparan hijau bibit sawit itu nantinya setelah ditanam selama tiga puluh enam
bulan sudah siap untuk dipanen.
Salah satu hal yang paling berkesan saat berkunjung ke kebun sawit adalah melihat hamparan sawit yang masih bibit dan yang sudah menjai pohon sawit. Dalam kunjungan ke kebun sawit kemarin juga, saya jadi tahu bagaimana cara petani sawit disana dalam membasmi hama yang tentunya mengganggu tanaman sawit mereka.
Untuk mengatasi hama
di kebun sawit, dibiakkan hewan sejenis serangga, beberapa tanaman, dan juga
burung hantu. Bahkan setiap 25 hektar luas dari kebun disini dibuatkan satu
rumah burung hantu. Burung hantu disini bertugas untuk menangkap tikus yang
tiap malam sering mampir dan menganggu tanaman sawit.
Perjalanan singkat
kami di kebun sawit kemarin diakhiri dengan menengok proses
pengolahan limbah sawit yang letaknya tak terlampau jauh dari kebun
sawit. Dan yah berada di proses pengolahan limbah lagi lagi mengingatkan saya
akan jaman kuliah menjadi mahasiswa Teknik industri, aroma khas limbah yang
rasanya sudah bersahabat dengan indera penciuman ini.
Dari kunjungan ke
perkebunan kelapa sawit kemarin, sedikit banyak saya tahu tentang dunia
perkebunan. Dan ikut merasakan bagaimana perjuangan bapak – bapak petani plasma
hingga petani
sawit swadaya dalam mengelola kebun sawit mereka.
Tak ada hasil yang
mengkhianati usaha, untuk perjuangan dan kerja keras bapak–bapak petani yang
tergabung dalam Asosiasi Petani Swadaya Amanah misalnya. Kalau saja mereka
tetap bersikeras menjual hasil kebun sawitnya ke tengkulak, mungkin saja
perekonomian mereka tidak se-stabil sekarang.
Seperti kata Pak
Suparjo, Asian Agri sangat membantu dalam mengangkat
harkat dan martabat serta perekonomian petani swadaya. Kenangan akan Pak
Suparjo sang petani si pembelajar handal dan Pak Tulus yang tulus bekerja, akan
selalu kami ingat. Sampai jumpa lagi Pekanbaru. Suatu hari nanti kami semua
akan kembali lagi untuk melihat hal – hal baru yang ada di Pekanbaru.
KELILING KOMPLEK RAPP DARI PABRIK SAMPAI RUMAH BATIK
Tuesday, August 21, 2018
Siang masih begitu terasa
ketika rombongan kami tiba di Kawasan PT RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) salah
satu pemain terkemuka di industri serat, pulp dan kertas. RAPP ini merupakan
bagian dari APRIL Group.
Memasuki kawasan komplek PT
RAPP, mengingatkan saya akan komplek perumahan di tempat kelahiran saya,
Palembang. Sebuah komplek yang di desain All
in One. Dimana ada pabrik, perumahan, sekolahan, apartemen, hingga hotel.
Cuma bedanya disini pabrik Kertas, sedangkan komplek perumahan saya pabrik Pupuk
Urea.
Kunjungan saya kali ini tak
sendirian, bersama rekan – rekan Social Media Influencers dari Jakarta dan
Pekanbaru, kami akan berkeliling Kawasan RAPP seharian.
Sudah jadi standar resmi bagi
setiap pabrik untuk memberi Safety Induction terlebih dahulu kepada para tamu sebelum diizinkan
mengelilingi area pabrik, pun begitu juga dengan RAPP.
Sejarah berdirinya APRIL
Group disampaikan dengan sangat luwes oleh host wanita berperawakan mungil
dengan setelan baju hitam. Mulai dari infografis hingga maket RAPP. Tentulah
rombongan kami sangat antusias saat melihat langsung contoh produk – produk apa
saja yang dihasilkan oleh RAPP.
Dari dalam ruangan
berpendingin yang dihiasi dengan gambar RAPP, maket hingga infografis,
selanjutnya kami menuju ruangan terbuka milik RAPP yakni Kerinci Central
Nursery.
Kerinci
Central Nursery Kerinci Central Nuini kebun khusus untuk menanam bibit
Akasia. Ada sekitar 350 orang pekerja yang berasal dari warga lokal dan 40
orang karyawan yang bekerja di Kerinci Central Nursery ini. Di sini pohon
Akasia dikembangbiakkan dengan metode stek pucuk daun. Butuh waktu sembilan
pekan sampai Akasia siap dipanen di lahan terbuka. Dan nantinya Akasia ini
tingginya bisa mencapai 25 meter.
Jangan remehkan kemampuan ibu
– ibu yang bekerja di kerinci Central Nursery, dalam sehari mereka siap menanam
6000 bibit pohon Akasia. Kalo ibu – ibu aja bisa nanam 6000 bibit, kita yang
muda kira – kira berapa yah ? Ya silakan dijawab di hati masing – masing.
Penyiraman bibit Akasia
disini dengan cara misting. Jadi
embun air disemprotkan secara berkala. Tentulah volume dan frekuensi penyiraman
disesuaikan dengan kondisi bibit.
Selesai berkeliling kebun
Akasia yang ada di Kerinci Central Nursery, kunjungan kami lanjutkan untuk
menengok pabrik kertas khususnya ke ruang pemotongan kertas. Tak lupa safety Helmet dan ear plug menjadi Alat Pelindung Diri yang wajib kami pakai saat masuk
ke area pabrik.
Masuk area pabrik kertas
dengan Safety Helmet dan Ear Plug, mengingatkan masa- masa saya
saat menjadi anak Teknik industri. Bunyi mesin yang saling beradu jadi satu
untuk produksi maupun pemotongan kertas cukup membuat bising bagi yang pertama
masuk ke area pabrik.
Dalam pabrik kertas ini
terdapat ruang pemotongan kertas yang juga digabung dengan ruang packaging.
Kertas – kertas yang diproduksi di sini untuk berbagai ukuran. Ada ukuran A3,
A4, A5, F4 dan F5 (tergantung permintaan pasar juga). Bahkan kertas yang
diproduksi RAPP ini sudah diekspor ke berbagai belahan dunia, salah satunya
Korea Selatan.
Dalam sehari, ruang
pemotongan kertas ini mampu memotong 1654 ton kertas dengan ukuran yang sudah
disesuaikan dengan permintaan pasar. Jangan khawatir dengan kualitas kertas
PaperOneTM yang diproduksi RAPP yah, karena kertas yang sering kita
pakai ini sudah lulus quality control terlebih dahulu sebelum dipasarkan.
*ngomong – ngomong mohon maaf karna gambar selama di area pabrik tidak dapat ditampilkan disini. Karena privasi perusahaan. Group Foto cukuplah yah. Bisa diliat kan produk RAPP ini apa. Kalian ada yang pakai kertas PaperOne juga kah ? Ukuran apa kalau boleh tau ?? Kalau aku sih sering pakai ukuran A4 apalagi tahun lalu pas lagi skripsi, kosanku penuh dengan tumpukan PaperOneTM!.
Sudah puas dan takjub
menengok pabrik kertas yang di dalamnya terdapat pallet, forklift, conveyor, hingga tumpukan kertas tentunya,
rombongan kami pun lanjut menuju Balai Pengembangan dan Pelatihan Unit Terpadu
(BPPUT) yang letaknya masih di dalam komplek RAPP.
Dari
Pabrik ke Rumah Batik
Tak hanya rumah batik
saja yang ada di Balai Pengembangan dan Pelatihan Unit Terpadu ini. Terdapat
pula beragam kegiatan lainnya seperti Rumah Madu, perkebunan, peternakan hingga perikanan yang tentunya akan
sangat membantu roda perekonomian masyarakat sekitar kebun dan pabrik RAPP.
Namanya Rumah Batik Andalan. Kira – kira lima tahun lalu, ibu – ibu disini mulai
belajar membatik dari perajin handal di Yogyakarta, Solo dan juga Pekalongan. Sekarang
Rumah Batik Andalan sangat membantu roda perekonomian masyarakat, khususnya ibu
– ibu yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dalam
sebulan penghasilan kami bisa mencapai 2 – 3 juta rupiah, mbak” ucap
salah satu ibu perajin Batik Bono.
Satu lembar batik cap yang diproduksi Rumah Batik Andalan ini dibandrol dengan harga IDR 250 – 300 ribu. Untuk pengunjung yang ingin custom (motif sesuai request) bisa banget. Sedangkan Batik Tulis di Rumah Batik Andalan ini dihargai IDR 400 ribu.
Motif Andalan yang dijual di
Rumah Batik Andalan ini adalah motif Bono.
Tau Bono ?
Ombak Sungai Kampar yang
sangat terkenal dan ditunggu oleh peselancar dunia.
Pemasaran Batik produksi
Rumah Batik Andalan ini memang masih banyak dibantu oleh pihak RAPP. Namun
jangan salah sangka, Produksi Rumah Batik Andalan ini sudah sering unjuk gigi dalam
berbagai pameran yang ada di Indonesia.
Kunjungan singkat dari Pabrik
sampai Rumah Batik kemarin jadi pengalaman baru bagi saya sebagai mantan anak
Teknik. Bernostalgia dengan peralatan yang ada di Gudang hingga belajar banyak
hal dari kegigihan ibu – ibu perajin batik di Rumah Batik Andalan.
Satu hal yang saya salut dari
RAPP ini mereka sangat peduli akan kesejahteraan masyarakat sekitar kebun dan
pabrik.
Semoga nantinya program CSR
ini terus dipertahankan supaya makin banyak masyarakat yang memiliki
keterampilan seperti ibu – ibu di Rumah Batik.
Subscribe to:
Posts (Atom)



